Perbedaan Homeschooling dengan Sekolah Formal

SEKOLAH FORMAL :

  1. Metode pembelajaran klasikal.
  2. Memiliki kemungkinan terpengaruh pergaulan yang menyimpang, tawuran, penculikan anak dan jajanan malnutrisi.
  3. Waktu belajar yang padat sehingga waktu istirahat dan hobby tidak tersalurkan.
  4. Tidak memberikan toleransi atas kendala-kendala yang dialami siswa.

HOMESCHOOLING :

  1. Lebih memberikan kemandirian bagi siswa.
  2. Waktu luang lebih banyak sehingga dapat menyalurkan bakat sesuai keinginan anak
  3. Keleluasaan menentukan tempat belajar, materi dan waktu belajar itu sendiri.
  4. Memiliki toleransi yang besar atas kendala-kendala yang dihadapi siswa baik itu secara emosional maupun mental.

Kini banyak pertanyaan mengapa homeschooling menjadi suatu alternatif pendidikan yang dibutuhkan oleh masyarakat? Padahal banyak sekolah formal baik Negeri maupun Swasta banyak yang berdiri ? Jawabnya adalah adanya  peserta didik (siswa-siswi) yang memiliki kendala atau halangan untuk bersekolah di sekolah umum. Ada yang karena kesibukannya sudah merintis masa depannya sebagai model iklan, pemain sinetron atau tergabung dalam sebuah group band. Hal ini sangat menyita waktu mereka sehingga waktu untuk bersekolah dari pagi hingga petang tidak dapat diikuti. Namun ada pula bagi putra-putri harapan Ibu Pertiwi yang mengalami kendala sejak kelahirannya, yang oleh dunia medis digolongkan sebagai Special Needs, seperti mengalami Dyslexia (Alexia) , gangguan konsentrasi, ADHD, bahkan autisme yang semuanya jika bersekolah di sekolah formal akan mengalami banyak kendala. Maka homeschooling menjadi alternatif terakhir agar mereka dapat memperoleh pendidikan yang layak dengan perhatian khusus sehingga dapat menempuh ujian pemerintah dan memperoleh ijasah dari pemerintah.

Bagi anak-anak yang memiliki cacat tertentu, pemerintah Indonesia juga telah memfasilitasi sekolah khusus bagi anak-anak penyandang cacat seperti buta, tuli dan bisu yaitu untuk bersekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa). Namun bagi anak-anak yang tidak cacat secara fisik apakah layak mereka bersekolah di SLB? Di satu pihak hal ini boleh saja karena SLB menampung mereka dengan biaya yang relatif lebih murah. Namun misalkan anak kita hanya mengalami gangguan konsentrasi, apakah mereka tidak menjadi malu, marah dan minder (rendah diri) ketika mereka bersekolah di SLB dan mendapat ijasah SLB? Semakin beranjak dewasa mereka akan berpikir bahwa mereka adalah anak yang terbuang, dan akan terbenam di pikiran bawah sadarnya bahwa mereka adalah anak yang tidak sepadan berkumpul dengan orang-orang normal. Mereka adalah bagian dari kelompok minoritas yang terpinggirkan. Hal inilah yang harus dihindari, sehingga kini pemerintah telah memberikan perizinan untuk berdirinya homeschooling di Indonesia. Kebutuhan akan pendidikan yang layak dapat tersalurkan melalui pendidikanhomeschooling ini.