Sehari Bersama Dee

Oleh: Erika

Hari itu, beberapa mimpiku seperti terwujud sekaligus. Dalam sehari itu, aku tak hanya bisa bertatap muka, tapi juga mendapat segudang ilmu secara langsung dari penulis favoritku! Ialah Dewi Lestari, atau yang lebih dikenal dengan nama pena Dee.

Workshop yang diadakan pada tanggal 1 April 2018 itu merupakan workshop menulis senilai Rp1.000.000 yang diberikan kepada para pemenang yang karyanya telah diseleksi dalam lomba cerpen yang diadakan oleh Storial. Dari 400+ karya yang masuk, hanya 60 yang dipilih. Air mata meledak begitu aku melihat nama dan judul tulisanku terpampang di daftar pemenang. Aku akan selamanya berterima kasih kepada Tuhan karena telah menyusun skenario sehebat ini.

Selama kelas menulis berlangsung, aku benar-benar mengaktifkan otakku agar bisa menyerap setiap kata yang Dee ucapkan. Momen langka, gais! Aku pun masih bisa hafal betul hampir apa saja yang ia ucapkan hari itu. Bahkan kadang di tengah ia berbicara, aku sesekali terhipnotis dengan kata-katanya. Strukturnya sempurna, enak didengar, dan suka menembakku telak! Ini adalah beberapa kalimat/rangkuman favorit darinya yang menurutku jleb banget:

    1. “Kenapa Supernova terbit? Karena itulah satu-satunya novel saya yang SELESAI.”
    2. “Ide itu seperti radikal bebas yang bertebaran di mana-mana dan dia mencari pasangan untuk bisa nempel.”
    3. “Semua hal bercerita. Kamu hanya perlu mendengar.”
    4. “Riset adalah alasan paling seksi untuk menunda menulis.”
    5. “Seringlah mencoba. Jam terbang tidak pernah bohong.”
    6. “Tulislah buku yang ingin kamu baca. Jadilah penulis yang layak kita kagumi.”
    7. “Tidak ada karya sempurna. Yang ada hanyalah karya yang SELESAI dan TIDAK.” (haduh, kesindir abis bosss)
    8. “Sainganmu adalah diri kamu sendiri.”
    9. “Satu TAMAT akan membawa kita ke banyak awal baru.”
    10. “Tujuan ide adalah untuk dijadikan konkret.”

Dari kelas menulis bersama Dee, salah satu yang paling ngena buatku adalah tentang pencarian ide. Hal ini merupakan sesuatu yang sering menjadi kendala buatku. Kadang aku suka kesal sendiri jika sudah berusaha keras mencari ide, tapi rasanya usahaku seperti menggapai angin. Aku pun akhirnya mendapatkan jawabannya di workshop ini.

Kata Dee, bukan kita yang mencari ide, tapi ide yang mencari kita. Kita hanya perlu menjadi makhluk yang peka terhadap sekitar dan membukakan pintu agar ide-ide tersebut bisa masuk. “Bayangkan kamu itu seperti wadah yang siap menampung apa saja,” ujarnya. Kalimat ini berhasil mengubah pola pikirku.

Ia juga mengatakan bahwa kita tidak perlu pergi jauh seperti ke pantai atau gunung demi mencari ide. Kalau kita dalam ‘kondisi menerima’, tidak ngotot mencari, akan semakin mudah bagi si ide untuk mendapat akses masuk ke kita. Bahkan Dee bercerita bahwa ide-ide paling briliannya sering menghantam masuk ketika ia melakukan kegiatan sepele sehari-hari, seperti ketika sedang sikat gigi, memasak, atau lagi di kamar mandi (ini juga sama dan bener banget omg).

Ada juga beberapa latihan yang disiapkan Dee untuk para peserta workshop. Salah satunya, sebuah gambar ditampilkan di layar, lalu kami diberi waktu lima menit untuk menuliskan cerita dari gambar tersebut sebebas-bebasnya. Kami disuruh berpikir seliar-liarnya. Setelah selesai, beberapa peserta yang ingin membacakan hasil ceritanya boleh maju ke depan. Mungkin karena hampir semua yang ada di ruangan itu memang sudah cinta menulis, refleks menulis mereka sudah sangat cepat.

Bayangkan, lima menit loh, guys! Dan semua’relawan’yang membaca karya singkatnya itu imajinasinya gilaaa, keren-keren banget. Bahkan ada yang nyampe dua paragraf lebih! Aku yang baru dapat satu sampai dua kalimat dalam waktu sesingkat itu cuma bisa melongo sambil tepuk tangan slow motion. Sumpah, semua manusia yang ada dalam ruangan itu jadi menginspirasiku bersamaan. Rasanya mau meledak bunga-bunga.

Di akhir acara,kami diberi kesempatan untuk sesi foto dan tanda tangan.Aaak,salah satu bagian yang paling kutunggu! Aku sempat bercerita sedikit pada Dee tentang mimpiku setelah membaca karya terbarunya, Aroma Karsa. Ia tertawa. Selain di atas novelnya, aku juga meminta tanda tangannya di buku tulis pribadiku, tempat biasa aku menuangkan ide menulis. Kemudian kami sempat mengobrol singkat, berpelukan erat, dan berfoto bersama! Uhuyy! Aku bahagiaaa!

Terima kasih sebesar-besarnya kepada Storial, Path, orangtua, kawan-kawan, dan semuanya yang telah mendoakan, mendukung dan berperan dalam terwujudnya semua ini! Terima kasih juga kepada Ibu Suri Dee Lestari yang telah menjadi sosok yang tak henti-hentinya menginspirasi di kehidupanku dan kehidupan ribuan orang lainnya. You the best!

Sumber: http://xerikadp.blogspot.com/2018/04/sehari-bersama-dee.html