Peluh Sang Tertangguh

Oleh: Maira

Macam lampu gang serampangan yang detak sinarnya tak lagi menentu,
mata hitammu mulai bekerja keras untuk sekadar mempertahankan kilaunya.
Senyumanmu yang paling tulus di semesta juga kedatangan tamunya,
ialah para gurat lelah sebab kau yang berusaha nampak tak sendu,
dan menjadi sosok yang kelihatan paling bahagia di alam dunia.

Bukan hal yang biasa untukku,
menyaksikan yang tertangguh
seperti dirimu,
kebanjiran peluh,
dan pada titik terendahmu;
kelelahan.

Tolong, sesekali,
pikirkan tentang keberadaan dirimu sendiri;
rawatlah dirimu untuk dirimu sendiri.

Kau hidup memang untuk beribadah,
dan salah satunya ialah dengan berbaik hati
dengan sesama, tetapi sesekali
sesekali,
pikirkan dirimu.
Jaga dirimu.

Kalau kau tak punya lagi hasrat untuk menjaga diri,
setidaknya jaga dirimu untuk kami.
Kami membutuhkanmu.

Tak hanya untuk hal-hal semacam pekerjaan di balik dapur,
namun juga untuk berada di balik pintu kamar kami yang tertutup,
memeluk kami dan meyakinkan,
bahkan mampu membuat segala resah menjadi cerah.

Jangan kelelahan,
Setidaknya untuk kami.

Sumber: http://mai5104.blogspot.com/2019/02/peluh-sang-tertangguh.html

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: