Jangan Dijawab

Oleh: Febri

Beberapa hari yang lalu, Lisa beserta keluarganya pindah ke sebuah rumah yang berada di pinggir kota. Membuat gadis itu girang setengah mati karena lokasi yang dipilih sangat tenang. Jauh dari jalan raya yang dikuasai asap kendaraan bermotor dan tempat-tempat ramai lainnya.

Sayangnya, rasa bahagia yang dirasakannya tidak bertahan lama karena Sang Ayah harus bekerja di luar kota dalam jangka waktu yang tak pasti. Pada akhirnya, Lisa terpaksa tetap di rumah berdua dengan ibunya. Membunuh waktu dengan setumpuk novel yang jalan ceritanya membuat pusing.

Saat jam di ponsel-nya menunjukkan pukul satu malam, tenggorokan Lisa mulai terasa kering. Memberi pertanda bahwa ia harus minum air, setidaknya beberapa teguk.

‘Tap tap tap’ 

Lisa meminum sebotol air dari lemari pendingin dengan rakus, nyaris tak ada jeda untuk mengambil napas. Seolah takkan ada hari esok jika ia tidak segera menghabiskannya.

“Lisa, apa kau ada di dapur?”

Tubuh Lisa agak tersentak karena mendengar suara ibunya dari ruang tamu. Tak biasanya wanita itu terjaga hingga tengah malam di hari kerja.

Baru saja ia ingin menjawab, sepasang tangan sudah menariknya. Memaksa bersembunyi di balik kulkas berukuran besar yang letaknya tak terlalu jauh. Lisa mungkin saja berteriak jika mulutnya tak dibekap.

Kedua mata gadis berambut pirang itu terbelalak begitu melihat siapa yang ada di hadapannya. Sungguh, Lisa tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Ssst, jangan dijawab. Ibu juga mendengar suara panggilan itu.”

Sumber: http://feberinasuhendra.blogspot.com/2018/04/jangan-dijawab.html